14 Maret 2014

Menginvasi Pejambon.

Hidup mulai semakin serius, bahkan untuk menulis catatan blog seperti ini sebenarnya enggan saya lakukan. But i'll keep doing this anyway.
Sudah 2 bulan sejak saya duduk di depan komputer, dengan setelan formal layaknya nomura dalam film killers. Sayangnya ini jauh berbeda, saya bukan duduk di depan komputer untuk mengupload video pembunuhan yang saya lakukan, belum sekarang, mungkin nanti, tapi saya duduk sebagai anak magang dengan rutinitas boring, data ini itu, dan semua dokumen-dokumen dari yang biasa sampai yang ada label rahasianya. Melihat kebelakang, 2 minggu sebelum hari pertama magang, imajinasi tentang apa dan bagaimana situasi di dalam gedung kementerian luar negeri ini mulai merajai isi kepala. Dari kerjaan yang menumpuk, bahasa yang digunakan, staf yang seksi-seksi (sampai sempat menggugling "hot woman in business suit"), juga imajinasi tentang penjaga kantor yang suka membunuh staf dan karyawan yang lemburnya kebangetan. And here we are, hari pertama magang, lupakan life sex, drugs dan rock and roll, sekarang minumnya bukan bir, tapi ultra milk. Hari pertama magang merupakan cobaan yang berat. Jika hari biasanya saya bebas dengan Band T-shirt : Seringai, Motorhead, Superman is Dead, di tempat magang kita dituntut buat make pakaian formal, yang setelah dipikir-pikir, "ngepet boy band banget". Dan alhasil saya sempat foto di tangan-tanganan suju, boyband dari planet pluto yang cantik-cantik.
Rencana awal mau numpang di kosan teman yang di binus juga tak tercapai, selain karena jarak yang ternyata jauh, juga karena saya masih new comer di dunia bangun pagi, jadi saya memutuskan untuk nyari kosan di deket kantor, biar ke kantor lebih dekat, dan tidur lebih lama.
1 minggu sebelum magang, saya habiskan untuk observasi, Sherlock Holmes di dalam diri saya kemudian menuntun saya ke tempat-tempat yang bagi saya penting untuk di observasi, mulai dari halte busway, tempat nongkrong pinggiran, sampai tempat nongkrong tengahan. Sangking dalamnya observasi saya, saya mengorbankan 2 jam nyasar di kemang, dan 1 buah handphone ketinggalan di taxi.
Melewati masa-masa sulit, atau bahasa kerennya minggu-minggu advent, merupakan suatu hal yang bagi saya telah dirancang oleh pemberi hidup. Saya dikaruniai teman-teman yang asik, mulai dari hari pertama disini, sampai pada hari-hari berikutnya, thanks to Christie Dewi, hari pertama sampai disini, tanpa tujuan dan tempat tinggal, beliau rela meluangkan waktu menemani saya jalan-jalan, lari-lari, duduk-duduk, makan-makan, dan minum-minum sampai akhirnya teman lainnya datang membawa pertolongan, pfffttt.... Saya lantas memaafkan bau badan dan bau mulutnya, saya memaafkan semua itu karena kebaikannya. 
Sambil magang saya tinggal di pejambon, di trotoar, beralaskan marmer trotoar dan beratapkan bintang kecil dilangit yang biru. Bersama teman-teman magang lainnya, kami mulai menaklukan kemlu, tapi sebelum menaklukan kemlu, kami harus menaklukan pejambon untuk awalnya. Kita kemudian menginvasi pejambon, seluru anak magang dipecah menjadi tiga kelompok, dan di bagi di area-area strategis di pejambon 1,2 dan 3. Semua ini dimaksudkan, agar pergerakan kita bisa menyeluru di pejambon, hingga akhirnya nanti kita berhasil menguasai pejambon, dan kita akan menyerang kemlu. Ternyata tidak segampang itu menaklukan pejambon, kami "pejambon rebel squad" merasa terhambat dengan bapak dan ibu kos yang sepertinya menentang gerakan bahwa tanah ini. Mereka berdalih melarang pria masuk ke kamar kosan cewe atas dasar kewajaran, hal itu bagi mereka adalah tak wajar. Tapi kami mengerti, bahwa sebenarnya mereka memiliki rencana lain untuk menggagalkan gerakan bawah tanah pejambon rebel squad. Tak lama setelah aksi penghambatan bapak dan ibu kos itu, salah satu dari pejuang kami, fraya, frica, dan melisa memutuskan untuk memindahkan markas ke tempat lain yang lebih kondusif, yakni ke rumah ibu RT, jika ibu RT sudah di taklukan, pasti pergerakan ini lebih muda. Ibu RT yang perwatakannya mirip mita the virgin ini, lantas menyambut ketiga pejuang kami dengan ramah, dengan bantuan suami ibu RT yang brewoknya mirip adam levine, kami mulai memindahkan persenjatahan ke markas baru, singkat cerita benteng pertahanan pejambon 2, yang dalam hal ini adalah rumah ibu RT, telah ditaklukan dengan terencana.
Perjuangan tidak sampai disitu, di pejambon 1, ada kelompok bawah tanah yang senada dan merupkan bagian dari pejambon squad, kelompok yang liar dan berbahaya ini, memiliki senjata pembunuh massal yang disembunyikan di balik high heels dan make up yang tebal, mereka adalah The syullen. Perjuangan terberat The syullen adalah untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar, untuk menyembunyikan aksen Niniwe (kota penjahat di perjanjian lama) mereka yang kental. Mereka memiliki aksen yang sangat khas, itulah yang menjadi identitas pejuang-pejuang yang datang dari Niniwe, itu sengaja di berikan leluhur, agar memudakan jika nanti ada inspeksi mendadak dari pusat imigrasi Niniwe.
I would like to write another part of this journey, but it's 04:30, and time to go home... See you...