14 Maret 2014

Rentang Waktu

Aku adalah sosok yang berdiri di sebelah matamu.
Aku adalah pribadi yang menjadi sedih dalam tanda tanyamu.
Adakah di memorimu, ketika kita berjalan di taman kala pagi. Kau memegang tanganku, dan aku berlari jauh di kelopak matamu.
Saat semua masih sejuk, masih berlarian anak kecil penuh tawa. Semua masih hijau, dengan ranting masih utuh. Kala itu kita tak pernah memuji, apalagi memuja. Kita bersatu dalam apa adanya, dan tak pernah peduli tentang apa yang hilang.
Wajahmu, berbinar tajam di sela indah rambut hitammu. Senyum dan rona merah menghiasi keindahan. Ingin ku bakar semua itu, ingin ku tak tertipu dengan indahmu. Dan jika waktu telah siang, semoga kau tak bertopeng dalam rupamu.
Kita harus tetap menyatu dalam apa adanya, walau mentari kian membunuh kita. Dan kini dalam rentang waktu yang semakin pudar, rintik tawa kian berbaur di air mata. Mencoba memberi arti kepada nada sumbang teriak minta tolong di bawah sadar.
Dari kejauhan ada ciuman yang berjalan pelan. Ciuman yang semakin mendekat ke hati masing-masing kita.
Tertawalah kekasihku, nikmatilah kepatahan ini. Sayap kita yang tak lagi utuh, dialah yang menghantar kita disini.
Kita seperti burung yang terbang bebas, menikmati keindahan langit. Sampai pada suatu ketika sayap itu patah, dan burung malang itu jatuh, terperangkap di pasir tepi pantai. Bagi si burung, hanya ada dua pilihan, diam dan ditarik ombak, tenggelam sampai mati. Atau menggunakan dua kakinya berjalan menyusuri pulau, jika saja ada kehidupan. Bagaimana denganmu kekasihku ?.
Kebebasan, kemana arah mencari kita ?. Tentang keabsahan suatu peristiwa, tentang sisa-sisa keindahan dibalik sayap patah. Aku masih mencarimu sayang, menunggu waktu yang tepat untuk terpenjarah.
Aku perlahan menapaki kaki ini di pasir putih. Setiap langkah yang terlewat, terlihat jelas bercak darah yang jatuh dari hatiku. Hati ini mulai berdarah, mulai menodai semua langkah yang ku tapaki.
Tak ingin aku berdiam di satu tempat, bukan karena kesetiaan, tapi karena tak mau darah ini tergenang disitu.
Aku berjalan dari satu sudut ke sudut yang lain, berharap ada pasir yang tak putih. Pasir yang olehnya darah ini bisa tak terlihat. Aku berjalan dari sudut pulau ke pulau lainnya, sampai tak sadar bahwa darahku telah membanjiri pulau ini. Jangan sampai aku mati. Tenggelam dalam luka sendiri bukanlah akhir hidup yang indah.
Aku adalah sosok yang berdiri di sebelah matamu. Aku adalah pribadi yang membalut luka di hatimu. Ku cabut perban itu dari hatiku, dan kurekatkan di hatimu. Kau akan sembuh kekasihku, luka itu akan segera sembuh. Sembuhlah, dan lekaslah pergi.
Saat lukamu sembuh, aku tak ingin kau disini. Kita tak perlu lagi bertemu, tak ada lagi kertas dan mawar untukmu.
Hampir saja aku tenggelam dalam darahku sendiri, sampai aku sadar bahwa semua ini hanya ilusi. Tak ada pulau pasir putih seperti yang kita yakini. Tak ada luka dan bercak darah menetes dari hati kita. Kita tak pernah separah itu. Bahkan bisa jadi hati yang kita yakini ada hanyalah ilusi.
Aku mulai memutar memori lama, mencari jejak dimana ilusi itu mulai nyata. Semua perlahan pasti, bahwa kepastian itu bemar-benar tak ada.
Aku adalah sosok yang berdiri di sebelah matamu. Ketika kau bertanya-tanya tentang kiasan ini, aku telah di dalam matamu, merasuk dan merusak memorimu. Aku tak lagi disebelah matamu. Aku adalah kamu.