
Mencintai adalah kepada siapa kita membagi,
berjuta tanda tanya tanpa harus ada jawaban
hari-hari monoton, tentang darah dan kenangan
waktu yang begitu berharga,
waktu, kemana kita akan menghilang.
Aku terus mengilhami arah detakmu
mencari jejak kenangan dalam lembut air matamu,
berikanlah segenggam waktu
untuk kita habiskan bersama
untuk kita lukai dan hancurkan dalam pelukan.
Dalam biru langit, malaikat menatap sedih
sementara waktu, terus tenggelam dalam malam
"Jangan berhenti"
kalimat itu yang terdengar kosong di imajiku
siapa ?, jejak wanita dan suara malam ?
jangan tangisi sesak malam ini
jangan sesali kain putih yang memerah.
Bir yang ketiga, dan belum juga malam
sampaikan saja pesanku
jika ketika terbenam, aku tak lagi bersama mentari
dan jika saat ku tersadar, tak disini lagi aku berdiri.
Waktu adalah anugerah yang megah
yang adalah hak kita, tapi tak pernah kita miliki
hapus kenang itu kawanku
bukan waktu yang kita sesali.
Aku lantas ingin memeluk matamu
membelai mesra aliran darahmu
dan tersipu malu dalam suara rintihanmu
"Aku membencimu"
melupakan, itulah hadiah terbaik sang waktu.
Setelah kuhabiskan bir ketujuh
aku mulai merenungi detak-detik di arlojiku
setiap detik ku imajinasikan sebagai langkahmu
semakin jauh detik berdetak, semakin jauh kau melangkah.
namun satu yang akhirnya ku mengerti,
aku adalah angka keenam dalam arloji hidup
dan jika detikmu berdetak menjauh
ketujuh, kedelapan, kesembilan, kesepuluh, dan seterusnya.
detakmu akan kembali berdetak di disini
dan jika engkau pergi lagi, arloji itu telah menjadi debu.
telah kubakar dalam api cerita.
dalam kenang memerah dan rintihan "jangan berhenti".