14 Maret 2014

Detak sang detik.


Mencintai adalah kepada siapa kita membagi,

berjuta tanda tanya tanpa harus ada jawaban

hari-hari monoton, tentang darah dan kenangan

waktu yang begitu berharga,

waktu, kemana kita akan menghilang.


Aku terus mengilhami arah detakmu

mencari jejak kenangan dalam lembut air matamu,

berikanlah segenggam waktu

untuk kita habiskan bersama

untuk kita lukai dan hancurkan dalam pelukan.


Dalam biru langit, malaikat menatap sedih

sementara waktu, terus tenggelam dalam malam

"Jangan berhenti"

kalimat itu yang terdengar kosong di imajiku

siapa ?, jejak wanita dan suara malam ?

jangan tangisi sesak malam ini

jangan sesali kain putih yang memerah.


Bir yang ketiga, dan belum juga malam

sampaikan saja pesanku

jika ketika terbenam, aku tak lagi bersama mentari

dan jika saat ku tersadar, tak disini lagi aku berdiri.


Waktu adalah anugerah yang megah

yang adalah hak kita, tapi tak pernah kita miliki

hapus kenang itu kawanku

bukan waktu yang kita sesali.


Aku lantas ingin memeluk matamu

membelai mesra aliran darahmu

dan tersipu malu dalam suara rintihanmu

"Aku membencimu"

melupakan, itulah hadiah terbaik sang waktu.


Setelah kuhabiskan bir ketujuh

aku mulai merenungi detak-detik di arlojiku

setiap detik ku imajinasikan sebagai langkahmu

semakin jauh detik berdetak, semakin jauh kau melangkah.

namun satu yang akhirnya ku mengerti,

aku adalah angka keenam dalam arloji hidup

dan jika detikmu berdetak menjauh

ketujuh, kedelapan, kesembilan, kesepuluh, dan seterusnya.

detakmu akan kembali berdetak di disini

dan jika engkau pergi lagi, arloji itu telah menjadi debu.

telah kubakar dalam api cerita.

dalam kenang memerah dan rintihan "jangan berhenti".