17 Oktober 2013

Hijau plastik palsu.

Akhir-akhir ini saya sering berpikir, kemana semua cerita dan kejadian yang dulu lalu. Mungkinkah semua itu hanya hilang begitu saja ?. Kemana semua canda yang dulu saya bagi, dan kemana jejak mimpi yang dulu saya cari. Untuk semua pribadi yang pernah dekat, mereka yang dulu ada, dan mereka yang kini kembali. Menghabiskan waktu bersama kenalan baru adalah cara yang saya pikir bisa memberi jawaban. Satu persatu saya menghabiskan waktu dengan daun-daun baru. dengan hijau jernih yang nodanya tak tampak. Saya pernah bersikeras , bahwa noda dalam daun-daun ini tak mungkin dihapuskan, bahwa menerima atau tidak adalah yang menjadi bagian saya. Tapi belakangan wajah saya ditampar dengan kenyataan, bahwa semua ini hanya imaji semata. Tak ada satupun diantara daun-daun ini yang asli. Semua plastik dan palsu. semua seakan-akan hijau tapi dibalik semua plastik yang melapisi ada hitam pekat yang kasat mata, bahkan ada yang sama sekali tak berwarna. Saya mulai lelah dengan semua omong kosong palsu berbalutkan kesucian. Waktu yang saya habiskan dengan pribadi-pribadi baru tetap saja tak mampu memberi jawaban, kemana semua cerita dan kejadian itu pergi. Satu persatu daun yang pernah dekat, mulai menampakan warna aslinya, dan bunga-bunga yang mekar mewangi kian berbau busuk dan berduri. Tak lagi ada yang murni dengan mereka, tak ada aroma pagi yang benar-benar pagi. Apalah pagi ketika saya semakin siang. Waktu yang kian menjebak seperti menginjak-injak kepala saya. Ada suara berteriak dalam telinga "sudahi saja, jemputlah malam". Persetan, kemana kalian semua ? Kembalikan penglihatan saya !!!, semua kepalsuan kalian telah membuat saya buta. Dunia tiba-tiba berubah hitam, semua sama, dari satu dosa ke dosa lainnya. Nama siapa yang harus saya teriakan disini ?, Tuhankah ?, Malaikatkah ?, atau pengemis jalanan ?. Saya tak butuh merah darimu, tak juga hijau palsumu. Saya hanya butuh jawaban, tentang kemana semua keindahan, tentang dimana letak senyum yang tak palsu. Aku merindukanmu, sangat rindu. Rindu ini kemudian menyayat semua tanda tanya. Mereka kemudian tak lagi membutuhkan jawaban, mereka tinggal kata-kata lalu. Mereka kemudian hilang seperti cerita dan kejadian-kejadian sebelumnya. Dan kemudian tak satupun yang tersisa, hanya aku, aku, dan aku. Tak ada lagi tanda tanya, tak ada cerita, apalagi kejadian. Semua buram tak berwarna, kemudian aku kembali mencari, mencari jejak tuhan yang dulu hilang, semoga padanya ada jawaban, tentang semua pertanyaan yang kini terlupa.