25 Agustus 2013

Nasionalisme Is DEAD !!!

Mahasiswa adalah ujung tombak pergerakan revolusi Indonesia. Sejarah kita membuktikan hal tersebut dalam rentetan peristiwa pergerakan revolusi di tanah air. Berawal dari dibentuknya yayasan Boedi Oetomo pada 1908, Indonesia kemudian melahirkan kaum-kaum intelektual muda yang dari mereka lahir pemikiran tentang Indonesia ke arah lebih baik. Kemudian di era kemerdekaan, perjuangan pemuda tentu saja memegang peranan penting. Gejolak perlawanan pemuda memang sering kali menempu jalur ekstrim. Melawan dengan segala cara, demi didengarnya aspirasi. Tapi hal ini tentu saja melalui perundingan yang matang. Peristiwa Rengasdengklok yang dibelakangnya digawangi oleh pemuda, menjadi bukti bahwa semangat pemuda tak bisa dibendung oleh apapun. Soekarno sendiri pernah berkata bahwa "puluhan orang tua hanya bisa bermimpi, tapi seorang pemuda bisa merubah dunia". Semangat yang berkobar di masa muda, bisa menjadi palu yang meretakan sendi-sendi kemunafikan sosial. Tapi dimana semangat perubahan itu bersembunyi hari ini ?, dimana kalian para pemberontak ?. Dalam buku "catatan harian sang demonstran", Soe Hok Gie bercerita bahwa dia muak dengan organisasi mahasiswa kala itu karena didalamnya telah di masuki antek-antek partai. Cerita ini sungguh menarik dibandingkan kenyataan bahwa di era modern, antek-antek kepentingan pribadilah yang telah memasuki organisasi mahasiswa dan juga organisasi kepemudaan lainnya. Kepentingan pribadi yang saya maksud adalah; eksitensi belaka, ingin dilihat hebat dengan masuk dalam organisasi ini dan itu. Segala bentuk apresiasi individual ini, kemudian membutakan kita dari apresiasi sosial yang lebih besar. Tapi lupakan sejenak tentang apresiasi, persetan dengan hal itu. Lalu bagaimana tentang bias kita terhadap sosial bermasyarakat ?, nihil !!!. Organisasi kepemudaan hanya menjadi arena bermain bagi lingkaran tertentu. Tak ada satu pun nilai-nilai sosial yang tercermin dari aktivitas kepemudaan. Inikah generasi kita ?, generasi yang bisu tak bersuara. Herannya, mereka yang mandul dalam hal sosial, berteriak lantang memerintah bak penguasa dalam lingkaran interen. Mereka seperti binatang yang buas di kandang sendiri. Liar dalam lingkarannya, tapi sekarat kalau berdiri sendiri. Miris memang, teman-teman kita yang berdiri di atas nama pemuda, tak lagi mampu menjunjung nilai revolusioner. Mereka terjebak di zona aman kemewahan, atau bahkan mereka tak pernah mengerti apa-apa tentang hal ini. Dimana nasionalisme ?, apakah nasionalisme modern hanya berakhir di style semata ?, Merasa paling nasionalis dengan memakai kaos bertuliskan indonesia, merasa paling Nasionalis dengan memakai jersey timnas. Betapa dangkalnya nasionalisme generasi kita. Saya sendiri sangat senang melihat teman mahasiswa lain yang masih berpegang erat pada prinsip-prinsipnya. Tapi juga sangan geram dengan teman mahasiswa lain, apalagi yang memegang kekuasaan, tak pernah berprinsip sama sekali. Akan ada suatu waktu, dimana kita harus mengambil sikap. Dan jika dalam situasi-situasi sosial tertentu kita tak mampu memilih sikap, maka kita tak lebih dari seorang pecundang. Kasihan adik-adik dari sekolah menengah, mereka nantinya akan menjadi mahasiswa yang tak mengerti apa itu perjuangan, mereka akan buta tentang nasionalisme. Semua ini akan nyata, jika kita diam dan membiarkan semua ini. Ayolah kawan, bangkit dari zona nyaman kalian. Beranilah berubah, dan berani mengubah. Salam kawan, LAWAN !!!!