Suasana kamar ini semakin basah, romantisme kita berdua
semakin menyelimuti suhu kamar yang 16 derajat celcius. Aku hanyalah wanita
biasa, yang sedari dulu merindukankan romantisme seperti ini. Di sudut kamar lampu meja yang remang-remang
menambah basahnya kamar ini. Seperti taman sehabis hujan, air mu kian mengalir
di sela-sela dedaunan tubuhku. Lantas aku bertanya, kemana semua kehangatan ?,
aku sangat merindukan detik-detik dimana kita terbakar bersama, amarahmu hangus
lenyap menjadi debu, bersama filosofi-filosofiku yang terbakar habis tak bersisa. Aku merindukanmu. Aku hanyalah
wanita biasa, yang sedari dulu merindukankan romantisme seperti ini.
Sudah pukul dua pagi dan kita masih dingin membeku. Jika
cinta kita adalah bumi, maka kau dan aku adalah kutub utara dan selatan, dan
kita berdua telah mati karena hipotermia, sangking dinginnya hubungan ini. Aku
mulai mengingat wajahmu dulu, mulai menggambar sketsa wajahmu, mulai
berimajinasi tentang bagaimana suaramu bisa menenangkan hatiku, tentang hangatnnya
tanganmu yang membelai lembut memar di wajahku. Semakin imaji itu menyebar di
kepalaku, semakin beku hati ini, semakin terasa kedinginan ini. Ahhh, anjing,
mengapa kita berdua hanya terbaring diam, jika gelombang otak memiliki warna,
mungkin kamar ini telah dipenuhi dengan warna-warni suara hati kita. Kita
berdua hanya berdiam sementara pikiran dan hati kita teriak-teriak mencari
jawaban, jawaban yang entah apa pertanyaannya. Merah mawar yang kian hitam
menjadi simbolisasi bahwa semua ini tak lagi sama, bahwa dirimu telah mati
dalam pelukku, dan bahwa diriku adalah jasad tak bernyawa yang teriak-teriak
meminta nyawaku kembali kepadamu. Lupakan aku sayang, lupakan keras tanganku
yang menghantam hatimu, lupakan sayap patahku yang telah membuatmu jatuh,
lupakan semua pisau dan belati yang telah menyayat dadamu. Aku tak bisa
melupakan. Bekas air matamu masih membekas di bahu kemejaku. Juga bekas darahmu
masih menoda di lengan kemejaku. Bagaimana kita bisa melupakan, sementara
teriakanmu masih terngiang di telingaku, masih ada nada rintihanmu membekas di
lubuk hatiku. Sejuta ekspresi tanda Tanya tentang mengapa aku membunuhmu,
tentang mengapa harus pisau itu kusayatkan di dadamu, tentang mengapa harus
tongkat baseball itu yang kupukuli di kepalamu. Aku cinta padamu, aku hanyalah
wanita biasa yang sedari dulu merindukan romantisme seperti ini. Coba kau putar
isi memorimu, pasti ada rekaman-rekaman tentang bagaimana kau memujiku, ada
jutaan kalimat cinta yang dulu sering kau ungkapkan padaku, “kamu cantik sayangku,
kamu adalah sakura di kemarauku, dan salju di gugurku”. Putar lagi memori itu
sayangku, tentang bagaimana dulu kau memelukku ramah, dengan perlahan kau
merangkulku dari belakang dan berkata “Jangan menangis sayangku, jangan sampai
pipi indahmu dibasahi airmata”. Putar kembali memori itu sayangku. Saat kita
berdua berjalan mengitari taman luas, hanya kita berdua saja. Aku menyesal
membunuhmu, ada sejuta kebahagiaan yang ikut mati bersamamu, tapi juga ratusan
kelegahan kini membanjiri duniaku. Aku legah. Walau harusnya ku peluk erat
dirimu, kudekap dan kudekatkan kau dihatiku, aku legah, dan aku menyesal
membunuhmu. Aku hanyalah wanita biasa yang sedari dulu merindukan romantisme
seperti ini. Telah lama kita berbaring, suara jarum jam menjadi irama romantisme
kita, namun tak sepatah katapun kita ucapkan, kita hanya terdiam. “sayang,
bangun sayang, buka matamu”, “bangsaaaaat, jangan diam saja, kita harus
bicara”. Aku semakin meledak, amarah kian membakar tubuhku, kedinginan yang
mencekam mendadak pecah, tubuhku terasa panas, kesunyian mendadak lenyap
termakan teriakanku yang dengan buasnya telah menembus tembok-tembok kamar ini.
“bangun sayaaaaaang, banguuuuun”.
Baiklah, jika suaraku tak bisa membangunkanmu, tongkat baseball ini
pasti bisa, “bangun sayaaang, banguun”. Aku tak butuh darahmu, aku tak butuh
darah lagi untuk membasahi kamar ini, aku hanya butuh suaramu sayangku. Aku tak
peduli dengan cipratan darah dari kepalamu, dan terima kasih telah mewarnai
merah tempat tidurku. Mengapa kau diam sayang ?, dulu kau yang selalu
bercerita, berteriak, dan bahkan membentak-bentak ketika aku diam, ketika aku
terlalu takut untuk memulai pembicaraan, aku tak takut padamu sayang. Aku takut
pada setan di dalam dirimu yang selalu mengganggu hubungan kita. Setan yang tak
pernah mengizinkan aku untuk salah berkata sedikitpun, setan yang tak mau
melihat diriku tertawa dengan orang lain. Setan itu juga yang menyuruhku untuk
berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga. Setan itu yang selalu bilang “kamu
hanya milikku, kamu milikku”. Itu bukan kamu sayang, itu adalah setan di
dalammu, makannya aku akan tetap mencintaimu.
Hari akan segera pagi, mungkin ketika mentari terbit, kau
akan bangun dan kita bisa bercertita tentang indahnya semalam. Aku telah
membunuh setan itu sayang, aku telah memukul kepalanya sampai pecah. Jika nanti
kau bangun, hanya ada kau dan aku, tanpa setan yang mengganggu hubungan kita.
Aku mencintaimu sayang, aku hanyalah wanita biasa yang sedari dulu merindukan
romantisme seperti ini.
Kenapa kau tak bangun juga ?, kenapa kau tak ucapkan selamat
pagi sambil memeluk tubuhku ?, bukankah dulu kita seromantis itu ?. saat
mentari terbit, aku akan selalu bangun lebih dulu dan menghidangkan kopi dan
roti kesukaanmu. Tak perlu muluk-muluk, kalimat terima kasih, selamat pagi, dan
aku cinta kamu yang diselimuti senyum sudah sangat membayar semua itu. Sudah 2
tahun semenjak pernikahan kita sayang, sudah dua tahun sejak aku menjadi
milikmu seutuhnya. Hubungan ini adalah keindahan kongkrit yang Tuhan berikan
kepada saya. Namun tak berangsur lama, setan itu datang merusak semua ini, yah,
setan yang didalam tubuhmu telah merusak semua ini. Ingat saat aku melahirkan
anak kita satu-satunya ?, kau menciumku penuh mesra sambil berkata “sekarang
kita sudah sempurna, kau aku dan anak kita adalah kebahagiaan yang nyata”. Dua
minggu lagi dan Brielle akan berusia satu tahun, kita harus bergembira dengan
itu sayangku. Brielle anak kita semakin
cantik, dia terlihat sepertiku, aku tahu aku cantik, kau dulu sering berkata
demikian. Tentang wajahku, kau selalu memujiku, tentang mataku yang indah, dan
bibirku yang selembut marshmallow, aku percaya padamu sayang, aku tahu aku
cantik.
Sudah hampir jam 12 siang, dan kau tidak bangun juga,
Brielle sedari tadi tak henti-hentinya menangis, dia ingin kau membelai
kepalanya yang mungil. Aku juga ingin dibelaimu sayangku. Terakhir kau
membelaiku adalah ketika kita berdua saling teriak, sebelum kau mencekik
leherku, dan memukul wajahku. Saat itu tangan lembutmu membelai mesra memar di
wajahku. Aku cinta kamu sayangku, semua memar dan luka ini menjadi saksi betapa
aku mencintaimu. Aku sabar menunggu setanmu pergi, dan sisi kebaikanmu akan
datang membelai mesra diriku yang penuh memar. Tapi aku tak tahan lagi
sayangku, aku muak menjadi korban dari setan di dalam dirimu, semalam aku telah
membunuhnya, aku telah mengambil keputusan besar dalam hidupku. Bahwa kita
berdua berhak bahagia tanpa setan itu. Seusai bercinta, setan itu selalu datang
dan merasukimu, setan itu yang membuatmu berpaling dan tak memelukku lagi.
Dulu, seusai bercinta, kau selalu mencium keningku, dan memelukku sampai kita
berdua tertidur dan terbawa mimpi. Tapi semenjak setan itu merasuki dirimu, tak
lagi ada kecup mesra dan hangat pelukan, kau menjadikanku budak gairahmu.
Semalam, setelah setan itu merasukimu, aku beranikan diri untuk melawannya, ku
ambil pisau yang sedari tadi ku simpan di bawa bantal, ku tusuk belakang lehernya
saat dia berpaling dari padaku, lantas merah darah kian mewarnai kamar ini,
kemudian ku sayat dadanya, ku cabik-cabik wajahnya, dan kupukuli kepalanya
dengan tongkat baseball, dia sudah mati sayangku. Saat ini hanya tinggal kita
berdua saja, tanpa setan yang merasukimu. Aku masih disini sayangku,
disampingmu aku berbaring, bersama Brielle anak kita, aku menunggumu bangun dan
menciumku. Aku hanyalah wanita biasa yang sedari dulu merindukan romantisme
seperti ini.