27 Februari 2014

Ordinary Girl

Suasana kamar ini semakin basah, romantisme kita berdua semakin menyelimuti suhu kamar yang 16 derajat celcius. Aku hanyalah wanita biasa, yang sedari dulu merindukankan romantisme seperti ini.  Di sudut kamar lampu meja yang remang-remang menambah basahnya kamar ini. Seperti taman sehabis hujan, air mu kian mengalir di sela-sela dedaunan tubuhku. Lantas aku bertanya, kemana semua kehangatan ?, aku sangat merindukan detik-detik dimana kita terbakar bersama, amarahmu hangus lenyap menjadi debu, bersama filosofi-filosofiku yang terbakar habis tak  bersisa. Aku merindukanmu. Aku hanyalah wanita biasa, yang sedari dulu merindukankan romantisme seperti ini.
Sudah pukul dua pagi dan kita masih dingin membeku. Jika cinta kita adalah bumi, maka kau dan aku adalah kutub utara dan selatan, dan kita berdua telah mati karena hipotermia, sangking dinginnya hubungan ini. Aku mulai mengingat wajahmu dulu, mulai menggambar sketsa wajahmu, mulai berimajinasi tentang bagaimana suaramu bisa menenangkan hatiku, tentang hangatnnya tanganmu yang membelai lembut memar di wajahku. Semakin imaji itu menyebar di kepalaku, semakin beku hati ini, semakin terasa kedinginan ini. Ahhh, anjing, mengapa kita berdua hanya terbaring diam, jika gelombang otak memiliki warna, mungkin kamar ini telah dipenuhi dengan warna-warni suara hati kita. Kita berdua hanya berdiam sementara pikiran dan hati kita teriak-teriak mencari jawaban, jawaban yang entah apa pertanyaannya. Merah mawar yang kian hitam menjadi simbolisasi bahwa semua ini tak lagi sama, bahwa dirimu telah mati dalam pelukku, dan bahwa diriku adalah jasad tak bernyawa yang teriak-teriak meminta nyawaku kembali kepadamu. Lupakan aku sayang, lupakan keras tanganku yang menghantam hatimu, lupakan sayap patahku yang telah membuatmu jatuh, lupakan semua pisau dan belati yang telah menyayat dadamu. Aku tak bisa melupakan. Bekas air matamu masih membekas di bahu kemejaku. Juga bekas darahmu masih menoda di lengan kemejaku. Bagaimana kita bisa melupakan, sementara teriakanmu masih terngiang di telingaku, masih ada nada rintihanmu membekas di lubuk hatiku. Sejuta ekspresi tanda Tanya tentang mengapa aku membunuhmu, tentang mengapa harus pisau itu kusayatkan di dadamu, tentang mengapa harus tongkat baseball itu yang kupukuli di kepalamu. Aku cinta padamu, aku hanyalah wanita biasa yang sedari dulu merindukan romantisme seperti ini. Coba kau putar isi memorimu, pasti ada rekaman-rekaman tentang bagaimana kau memujiku, ada jutaan kalimat cinta yang dulu sering kau ungkapkan padaku, “kamu cantik sayangku, kamu adalah sakura di kemarauku, dan salju di gugurku”. Putar lagi memori itu sayangku, tentang bagaimana dulu kau memelukku ramah, dengan perlahan kau merangkulku dari belakang dan berkata “Jangan menangis sayangku, jangan sampai pipi indahmu dibasahi airmata”. Putar kembali memori itu sayangku. Saat kita berdua berjalan mengitari taman luas, hanya kita berdua saja. Aku menyesal membunuhmu, ada sejuta kebahagiaan yang ikut mati bersamamu, tapi juga ratusan kelegahan kini membanjiri duniaku. Aku legah. Walau harusnya ku peluk erat dirimu, kudekap dan kudekatkan kau dihatiku, aku legah, dan aku menyesal membunuhmu. Aku hanyalah wanita biasa yang sedari dulu merindukan romantisme seperti ini. Telah lama kita berbaring, suara jarum jam menjadi irama romantisme kita, namun tak sepatah katapun kita ucapkan, kita hanya terdiam. “sayang, bangun sayang, buka matamu”, “bangsaaaaat, jangan diam saja, kita harus bicara”. Aku semakin meledak, amarah kian membakar tubuhku, kedinginan yang mencekam mendadak pecah, tubuhku terasa panas, kesunyian mendadak lenyap termakan teriakanku yang dengan buasnya telah menembus tembok-tembok kamar ini. “bangun sayaaaaaang, banguuuuun”.  Baiklah, jika suaraku tak bisa membangunkanmu, tongkat baseball ini pasti bisa, “bangun sayaaang, banguun”. Aku tak butuh darahmu, aku tak butuh darah lagi untuk membasahi kamar ini, aku hanya butuh suaramu sayangku. Aku tak peduli dengan cipratan darah dari kepalamu, dan terima kasih telah mewarnai merah tempat tidurku. Mengapa kau diam sayang ?, dulu kau yang selalu bercerita, berteriak, dan bahkan membentak-bentak ketika aku diam, ketika aku terlalu takut untuk memulai pembicaraan, aku tak takut padamu sayang. Aku takut pada setan di dalam dirimu yang selalu mengganggu hubungan kita. Setan yang tak pernah mengizinkan aku untuk salah berkata sedikitpun, setan yang tak mau melihat diriku tertawa dengan orang lain. Setan itu juga yang menyuruhku untuk berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga. Setan itu yang selalu bilang “kamu hanya milikku, kamu milikku”. Itu bukan kamu sayang, itu adalah setan di dalammu, makannya aku akan tetap mencintaimu.
Hari akan segera pagi, mungkin ketika mentari terbit, kau akan bangun dan kita bisa bercertita tentang indahnya semalam. Aku telah membunuh setan itu sayang, aku telah memukul kepalanya sampai pecah. Jika nanti kau bangun, hanya ada kau dan aku, tanpa setan yang mengganggu hubungan kita. Aku mencintaimu sayang, aku hanyalah wanita biasa yang sedari dulu merindukan romantisme seperti ini.
Kenapa kau tak bangun juga ?, kenapa kau tak ucapkan selamat pagi sambil memeluk tubuhku ?, bukankah dulu kita seromantis itu ?. saat mentari terbit, aku akan selalu bangun lebih dulu dan menghidangkan kopi dan roti kesukaanmu. Tak perlu muluk-muluk, kalimat terima kasih, selamat pagi, dan aku cinta kamu yang diselimuti senyum sudah sangat membayar semua itu. Sudah 2 tahun semenjak pernikahan kita sayang, sudah dua tahun sejak aku menjadi milikmu seutuhnya. Hubungan ini adalah keindahan kongkrit yang Tuhan berikan kepada saya. Namun tak berangsur lama, setan itu datang merusak semua ini, yah, setan yang didalam tubuhmu telah merusak semua ini. Ingat saat aku melahirkan anak kita satu-satunya ?, kau menciumku penuh mesra sambil berkata “sekarang kita sudah sempurna, kau aku dan anak kita adalah kebahagiaan yang nyata”. Dua minggu lagi dan Brielle akan berusia satu tahun, kita harus bergembira dengan itu sayangku.  Brielle anak kita semakin cantik, dia terlihat sepertiku, aku tahu aku cantik, kau dulu sering berkata demikian. Tentang wajahku, kau selalu memujiku, tentang mataku yang indah, dan bibirku yang selembut marshmallow, aku percaya padamu sayang, aku tahu aku cantik.

Sudah hampir jam 12 siang, dan kau tidak bangun juga, Brielle sedari tadi tak henti-hentinya menangis, dia ingin kau membelai kepalanya yang mungil. Aku juga ingin dibelaimu sayangku. Terakhir kau membelaiku adalah ketika kita berdua saling teriak, sebelum kau mencekik leherku, dan memukul wajahku. Saat itu tangan lembutmu membelai mesra memar di wajahku. Aku cinta kamu sayangku, semua memar dan luka ini menjadi saksi betapa aku mencintaimu. Aku sabar menunggu setanmu pergi, dan sisi kebaikanmu akan datang membelai mesra diriku yang penuh memar. Tapi aku tak tahan lagi sayangku, aku muak menjadi korban dari setan di dalam dirimu, semalam aku telah membunuhnya, aku telah mengambil keputusan besar dalam hidupku. Bahwa kita berdua berhak bahagia tanpa setan itu. Seusai bercinta, setan itu selalu datang dan merasukimu, setan itu yang membuatmu berpaling dan tak memelukku lagi. Dulu, seusai bercinta, kau selalu mencium keningku, dan memelukku sampai kita berdua tertidur dan terbawa mimpi. Tapi semenjak setan itu merasuki dirimu, tak lagi ada kecup mesra dan hangat pelukan, kau menjadikanku budak gairahmu. Semalam, setelah setan itu merasukimu, aku beranikan diri untuk melawannya, ku ambil pisau yang sedari tadi ku simpan di bawa bantal, ku tusuk belakang lehernya saat dia berpaling dari padaku, lantas merah darah kian mewarnai kamar ini, kemudian ku sayat dadanya, ku cabik-cabik wajahnya, dan kupukuli kepalanya dengan tongkat baseball, dia sudah mati sayangku. Saat ini hanya tinggal kita berdua saja, tanpa setan yang merasukimu. Aku masih disini sayangku, disampingmu aku berbaring, bersama Brielle anak kita, aku menunggumu bangun dan menciumku. Aku hanyalah wanita biasa yang sedari dulu merindukan romantisme seperti ini.