11 Oktober 2012

Tentang kita

“Tenanglah, tenanglah” puluhan kali ku tegaskan kalimat itu di benakku, nyatannya, jiwa ini tak bisa tenang, ada sesuatu di dalam tubuh ini yang tak seorangpun mengerti kecuali dia, sosok melati yang tak kunjung mekar, di sela resah, ada suara berbisik, “luruskan tangannya, sebentar lagi polisi datang” , saya semakin heran, apa yang terjadi diluar sana, rasannya ada begitu ramai riuk pikuk massa yang berlari mengitari saya, tapi saya tak mengerti apa-apa, saya tak melihat apa-apa, hanya gelap pekat dan perih di sekujur tubuh, tubuh saya seperti telah mati, apa jangan-jangan saya memang telah meninggal ?, apa yang sebenarnnya terjadi ?.
Tiba-tiba peralatan besi terdengar bising disamping saya, saya seperti terangkat dan dibaringkan di kasur yang nyaman, tapi tetap saja, pandangan saya gelap, mungkin benar, saya sudah mati, lantas saya mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnnya, tapi tak ada satupun yang terilintas, tak ada sedikitpun celah bagi saya untuk mengetahui apa yang benar-benar terjadi, rasanya ingin teriak, ingin berontak, tapi semuannya sia-sia, yang bisa dipakai hanyalah pikirku ini, lantas, kenapa saya bisa berpikir ? harusnya kalau saya mati, saya tak bisa berpikir seperti ini, apa yang Tuhan rencanakan membiarkan saya merasakan detik-detik tak bernyawa ini. Terdengar seperti roda-roda sedang bergulir kencang seiring angin menyentu pelipis luka yang mulai mati rasa di bagian lengan, lengan, yaa, saya bisa menggerakan jari saya, saya tak mati, mungkin saya Cuma pingsan atau mati suri, lantas disekeliling saya terdengar orang-orang ramai berdialog, tapi siapa mereka ? tak ada satupun suara mereka yang kukenal, tunggu dulu, tak ada satupun yang kenal, setaann, saya kehilangan ingatan, perlahan saya memaksa otak mengingat nama saya, tapi nihil, benar, saya akan menjadi orang asing jika saya selamat, saya tak mau seperti itu, saya ingin mati saja, tapi bagaimana memberi mereka sinyal bahwa saya tak ingin diselamatkan ?, oh sudahlah, lelah saya berpikir, ada baiknnya saya mulai mengingat apa yang terjadi, mungkin itu bisa membantu saya menemukan nama saya, terasa berat memang, tapi perlahan saya mulai terbayang detil kecil kejadian-kejadian yang mungkin saja penyebab hal ini terjadi, yang saya ingat adalah sebuah senyum, senyum itu sangat ramah, penuh kasih sayang, lekuk bibirnnya seperti sangat saya kenal, saya mengenalnnya, tapi saya tak bisa mengenalinnya, ada apa dengan saya ini, begitu tolol melupakan senyum semanis itu, jika saya sadar nanti, saya akan sangat senang melihat senyum itu kembali, terlintas lagi di benak saya sebuah suara yang berkata “tenang, semua baik-baik saja” suara itu begitu lembut, suara itu begitu penuh kasih, dan sialnnya, lagi-lagi saya tak mengenalinnya, siapa dia ? siapa sosok pemilik senyum dan suara merdu itu ? saya tak ingin mati, saya boleh mati kalau saya sudah menemukannnya, dan mengingat kembali siapa dia, rasanya siapa saya tak lagi penting saat ini, yang terpenting adalah untuk bisa mengenali sosok itu. Semuanya masih sama, disamping saya mereka masih ramai entah sedang apa, tapi kali ini dada saya mulai sesak, dan saya mulai bisa merasakan kaki saya, sepertinya suhu disini sangat dingin,  kaki saya seperti membeku, dan jantung saya berdetak sangat pelan, sangat pelan sampai saya mulai sesak nafas karenannya, jantung saya semakin pelan berdetak, semakin pelan dan pelan, oh Tuhan, jangan dulu ambil pikiran ini, saya belum sempat mengenalinnya, tolonglah Tuhan, saya tak minta diselamatkan, saya hanya ingin mengingatnnya, saya hanya ingin mengenal namannya. Saya seperti tersadar, dan rasa dingin perlahan mulai menghangat, saya bisa bangun  dan duduk,  perlahan-lahan saya membuka mata, dan saya sangat tak percaya dengan yang saya lihat, saya sedang di tengah padang rumput hijau, dengan langin cerah menguning, ini bukan dibumi, tak mungkin juga disurga, karena tak sedikitpun sinar silau yang menyelimuti pandangan,  semuannya biasa saja, hanya sedikit sunyi, dan sejuk. Dimana saya sebenarnnya..
Dari kejauhan terlihat seorang wanita sedang duduk di tepi telaga, dia terlihat sedang berbicara, tapi tak tau dengan siapa, saya memberanikan diri mendekati, mungkin saja dia bisa membantu menjelaskan tentang siapa saya, dan mengapa saya disini, semakin dekat, terlihat pula seekor ular sedang merayap-rayap didekatnnya, sang ular seperti sedang bicara dengan wanita itu, belum saya menyapa, wanita itu menyapa saya terlebih dahulu, “hey, kamu sudah bangun rupannya” dia terlihat begitu ramah, dan seolah-olah sangat mengenalku, “hmm,, kamu kenal saya ?” “tentu saja, kamu adalah darimana saya berasal” saya semakin heran dengan jawaban itu, saya adalah dari mana dia berasal, apa maksudnnya itu, dengan ceria diraihnnya tangan saya, katannya dia akan menganjak saya keliling tempat ini, jelasnnya lagi bahwa saya dan dia adalah yang pertama ditempat ini, bahwa saya yang terdahulu, dan dari sayalah dia ada, namun semuannya sangat tak masuk akal, saya sangat tak mengenalnnya, senyumnnya tak sama dengan senyum yang tadi saya ingatkan, suarannya beda dengan suara lembut yang tadi saya dengar, lalu, kalau saya yang terdahulu, mengapa saya sama sekali tak mengenal tempat ini ?. tempat ini sangat sunyi, saya memang lupa ingatan, tapi saya tau pasti, bahwa tak ada tempat seperti ini yang pernah saya lihat sebelumnnya, katanya ini adalah milik kita berdua, semua yang ada diatas tanah ini bisa kita pakai sesuka kita, banyak hal yang dia ceritakan tentang tempat ini, termasuk tentang tempat seluas ini yang diawasi oleh seorang yang bisa saja memporak-porandakannya hanya dalam hitungan detik. beberapa kilo terlampaui, tanpa terasa selama berjam-jam saya dan wanita ini masih berpegangan tangan, dia begitu mengakrabkan diri dengan saya, dalam hati saya seperti menemukan sifat wanita yang sesunggunnya, beginilah wanita seharusnnya, ramah dan mampu menjaga keakraban, dia pun mengajak saya ke sebuah pohon, pohon yang amat besar, penjaga tempat ini sangat melarang keras bagi penghuninnya merusak pohon ini, ini bukan pohon terbaik, tapi ini adalah yang paling dia sakralkan, bersandar dipohon ini seperti merasakan kenyamanan tiada tara, nyaman dan tenang sekali, saya tak pernah membahyangkan akan seperti ini, berduaan dengan gadis yang paling saya idamkan, di tengah taman luas tanpa ada satupun yang mengganggu, hanya tanaman-tanaman aneh, dan hewan-hewan unik yang belum pernah saya lihat sebelumnnya. Saya mulai tak menghiraukan senyum dan lembut suara yang sedari tadi mengambang dikepala ini, saya bahkan tak peduli siapa saya, saya lebih ingin menikmati momen-momen ini. Wanita ini melepas tangan saya dan meraih sesuatu di pohon dimana kita bersandar, dia memetik buahnya, padahal dia sendiri yang menceritakan ke saya bahwa buah ini tak boleh ada yang mengambil selain yang empunya, dia segera mencicipinya, wajahnnya terlihat memerah ketika gigitan pertama, dan dengan ramah dia memberikan saya buah tersebut, saya khawatir untuk mencicipinnya, mendengar cerita tentang kejamnnya sang empunya taman jika dia murka kita mengganggu pohon sakralnnya, tapi ini buah terenak yang pernah saya cicipi, ini adalah buah benar-benar mewah, tak ada yang bisa menyamainnya, tapi saya mulai panik, jantung saya berdegub kencang, semakin kencang, dan sangat kencang, wanita ini pun mulai teriak tak karuan, kami berdua seperti kerasukan, kami saling memandang dan, Oh Tuhan,, kami telanjang.