“Tenanglah, tenanglah” puluhan kali ku tegaskan kalimat itu
di benakku, nyatannya, jiwa ini tak bisa tenang, ada sesuatu di dalam tubuh ini
yang tak seorangpun mengerti kecuali dia, sosok melati yang tak kunjung mekar,
di sela resah, ada suara berbisik, “luruskan tangannya, sebentar lagi polisi
datang” , saya semakin heran, apa yang terjadi diluar sana, rasannya ada begitu
ramai riuk pikuk massa yang berlari mengitari saya, tapi saya tak mengerti
apa-apa, saya tak melihat apa-apa, hanya gelap pekat dan perih di sekujur
tubuh, tubuh saya seperti telah mati, apa jangan-jangan saya memang telah
meninggal ?, apa yang sebenarnnya terjadi ?.
Tiba-tiba peralatan besi terdengar bising disamping saya,
saya seperti terangkat dan dibaringkan di kasur yang nyaman, tapi tetap saja,
pandangan saya gelap, mungkin benar, saya sudah mati, lantas saya mencoba
mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnnya, tapi tak ada satupun yang
terilintas, tak ada sedikitpun celah bagi saya untuk mengetahui apa yang
benar-benar terjadi, rasanya ingin teriak, ingin berontak, tapi semuannya
sia-sia, yang bisa dipakai hanyalah pikirku ini, lantas, kenapa saya bisa berpikir
? harusnya kalau saya mati, saya tak bisa berpikir seperti ini, apa yang Tuhan
rencanakan membiarkan saya merasakan detik-detik tak bernyawa ini. Terdengar seperti
roda-roda sedang bergulir kencang seiring angin menyentu pelipis luka yang
mulai mati rasa di bagian lengan, lengan, yaa, saya bisa menggerakan jari saya,
saya tak mati, mungkin saya Cuma pingsan atau mati suri, lantas disekeliling
saya terdengar orang-orang ramai berdialog, tapi siapa mereka ? tak ada satupun
suara mereka yang kukenal, tunggu dulu, tak ada satupun yang kenal, setaann,
saya kehilangan ingatan, perlahan saya memaksa otak mengingat nama saya, tapi
nihil, benar, saya akan menjadi orang asing jika saya selamat, saya tak mau
seperti itu, saya ingin mati saja, tapi bagaimana memberi mereka sinyal bahwa
saya tak ingin diselamatkan ?, oh sudahlah, lelah saya berpikir, ada baiknnya
saya mulai mengingat apa yang terjadi, mungkin itu bisa membantu saya menemukan
nama saya, terasa berat memang, tapi perlahan saya mulai terbayang detil kecil
kejadian-kejadian yang mungkin saja penyebab hal ini terjadi, yang saya ingat
adalah sebuah senyum, senyum itu sangat ramah, penuh kasih sayang, lekuk
bibirnnya seperti sangat saya kenal, saya mengenalnnya, tapi saya tak bisa
mengenalinnya, ada apa dengan saya ini, begitu tolol melupakan senyum semanis
itu, jika saya sadar nanti, saya akan sangat senang melihat senyum itu kembali,
terlintas lagi di benak saya sebuah suara yang berkata “tenang, semua baik-baik
saja” suara itu begitu lembut, suara itu begitu penuh kasih, dan sialnnya,
lagi-lagi saya tak mengenalinnya, siapa dia ? siapa sosok pemilik senyum dan
suara merdu itu ? saya tak ingin mati, saya boleh mati kalau saya sudah
menemukannnya, dan mengingat kembali siapa dia, rasanya siapa saya tak lagi
penting saat ini, yang terpenting adalah untuk bisa mengenali sosok itu. Semuanya
masih sama, disamping saya mereka masih ramai entah sedang apa, tapi kali ini
dada saya mulai sesak, dan saya mulai bisa merasakan kaki saya, sepertinya suhu
disini sangat dingin, kaki saya seperti
membeku, dan jantung saya berdetak sangat pelan, sangat pelan sampai saya mulai
sesak nafas karenannya, jantung saya semakin pelan berdetak, semakin pelan dan
pelan, oh Tuhan, jangan dulu ambil pikiran ini, saya belum sempat
mengenalinnya, tolonglah Tuhan, saya tak minta diselamatkan, saya hanya ingin
mengingatnnya, saya hanya ingin mengenal namannya. Saya seperti tersadar, dan
rasa dingin perlahan mulai menghangat, saya bisa bangun dan duduk,
perlahan-lahan saya membuka mata, dan saya sangat tak percaya dengan
yang saya lihat, saya sedang di tengah padang rumput hijau, dengan langin cerah
menguning, ini bukan dibumi, tak mungkin juga disurga, karena tak sedikitpun
sinar silau yang menyelimuti pandangan,
semuannya biasa saja, hanya sedikit sunyi, dan sejuk. Dimana saya
sebenarnnya..
Dari kejauhan terlihat seorang wanita sedang duduk di tepi
telaga, dia terlihat sedang berbicara, tapi tak tau dengan siapa, saya
memberanikan diri mendekati, mungkin saja dia bisa membantu menjelaskan tentang
siapa saya, dan mengapa saya disini, semakin dekat, terlihat pula seekor ular
sedang merayap-rayap didekatnnya, sang ular seperti sedang bicara dengan wanita
itu, belum saya menyapa, wanita itu menyapa saya terlebih dahulu, “hey, kamu
sudah bangun rupannya” dia terlihat begitu ramah, dan seolah-olah sangat
mengenalku, “hmm,, kamu kenal saya ?” “tentu saja, kamu adalah darimana saya
berasal” saya semakin heran dengan jawaban itu, saya adalah dari mana dia
berasal, apa maksudnnya itu, dengan ceria diraihnnya tangan saya, katannya dia
akan menganjak saya keliling tempat ini, jelasnnya lagi bahwa saya dan dia
adalah yang pertama ditempat ini, bahwa saya yang terdahulu, dan dari sayalah
dia ada, namun semuannya sangat tak masuk akal, saya sangat tak mengenalnnya,
senyumnnya tak sama dengan senyum yang tadi saya ingatkan, suarannya beda
dengan suara lembut yang tadi saya dengar, lalu, kalau saya yang terdahulu,
mengapa saya sama sekali tak mengenal tempat ini ?. tempat ini sangat sunyi,
saya memang lupa ingatan, tapi saya tau pasti, bahwa tak ada tempat seperti ini
yang pernah saya lihat sebelumnnya, katanya ini adalah milik kita berdua, semua
yang ada diatas tanah ini bisa kita pakai sesuka kita, banyak hal yang dia ceritakan
tentang tempat ini, termasuk tentang tempat seluas ini yang diawasi oleh
seorang yang bisa saja memporak-porandakannya hanya dalam hitungan detik.
beberapa kilo terlampaui, tanpa terasa selama berjam-jam saya dan wanita ini
masih berpegangan tangan, dia begitu mengakrabkan diri dengan saya, dalam hati
saya seperti menemukan sifat wanita yang sesunggunnya, beginilah wanita
seharusnnya, ramah dan mampu menjaga keakraban, dia pun mengajak saya ke sebuah
pohon, pohon yang amat besar, penjaga tempat ini sangat melarang keras bagi
penghuninnya merusak pohon ini, ini bukan pohon terbaik, tapi ini adalah yang
paling dia sakralkan, bersandar dipohon ini seperti merasakan kenyamanan tiada
tara, nyaman dan tenang sekali, saya tak pernah membahyangkan akan seperti ini,
berduaan dengan gadis yang paling saya idamkan, di tengah taman luas tanpa ada
satupun yang mengganggu, hanya tanaman-tanaman aneh, dan hewan-hewan unik yang
belum pernah saya lihat sebelumnnya. Saya mulai tak menghiraukan senyum dan
lembut suara yang sedari tadi mengambang dikepala ini, saya bahkan tak peduli
siapa saya, saya lebih ingin menikmati momen-momen ini. Wanita ini melepas
tangan saya dan meraih sesuatu di pohon dimana kita bersandar, dia memetik
buahnya, padahal dia sendiri yang menceritakan ke saya bahwa buah ini tak boleh
ada yang mengambil selain yang empunya, dia segera mencicipinya, wajahnnya
terlihat memerah ketika gigitan pertama, dan dengan ramah dia memberikan saya
buah tersebut, saya khawatir untuk mencicipinnya, mendengar cerita tentang
kejamnnya sang empunya taman jika dia murka kita mengganggu pohon sakralnnya,
tapi ini buah terenak yang pernah saya cicipi, ini adalah buah benar-benar
mewah, tak ada yang bisa menyamainnya, tapi saya mulai panik, jantung saya
berdegub kencang, semakin kencang, dan sangat kencang, wanita ini pun mulai
teriak tak karuan, kami berdua seperti kerasukan, kami saling memandang dan, Oh
Tuhan,, kami telanjang.