Senjata dan satu-satunya peluru
Buat apa
mempercepat langkah, toh yang lain juga masih jalan santai jauh dibelakang, hal
ini seakan pasti, bahwa pagi ini semua siswa akan terlambat kesekolah, mungkin
saja mereka lelah, semalaman suntuk memandang bulan yang lambat sekali langkahnnya,
apalah jadinnya desa ini, ketika para remaja tak mampu menikmati alam, kita
akan sama saja dengan remaja kota, buta akan keagungan Tuhan, tapi sok suci
teriak Lawan atas nama agama, saya masih percaya, bahwa didesa ini kemurnian
masih ada, biarlah udaranya saja yang mulai kotor karna motor-motor kreditan
yang mulai ramai di jalan desa, asal jangan jiwa suci yang dikotori.
Ada jejak
beralur di antara sawah, artinya telah ada yang mendahului saya, entalah,
mungkin salah satu guru yang tak sabar untuk membagikan ideologinnya. Hari ini
kakek dan nenek saya tinggal sendirian di rumah, semoga saja mereka langgeng
dalam kesendiriannya, kemarin ketika kakek masih di sawah, nenek sempat
bercerita tentang sempitnnya dunia mereka ketika pacaran, sebenarnnya nenek tak
bermaksud menceritakan semua ini, tapi hati nenek seakan ingin berbagi ketika
mendengar secuil kisah cinta yang saya utarakan, ini kisah saya;
Setelah 2
tahun lebih berbaur dengan suasana desa, dengan kepolosan dan kemurnian
alamnnya, saya mulai sadar bahwa Cinta yang Tuhan bagikan itu tak sekedar
tertulis dalam kitab-kitab suci yang ada, tapi lebih besarnnya semua cinta itu
di rajut dalam indahnnya gerak alam, dalam barisan merpati yang terbang
melayang, dalam rajutan jaring laba-laba yang rapih, dan dalam gotong-royong
semut hitam yang tak mengenal lelah. Cinta yang murni itu lantas membuat saya
berpikir, bahwa sesungguhnya cintalah yang mendasari segala sesuatu, apalah
jadinnya dunia ini tanpa cinta, dan lebih dalamnnya, apalah arti duniaku jika tak
ada cinta di dalamnnya.
Namannya
Ray, untuk saat ini saya berpikir dialah cinta dalam dunia saya, dia adalah
teman sekelas saya, teman baik saya, dan pribadi yang menarik dan sangat
mengerti bagaimana membuat situasi jadi menyenangkan, dan setahun yang lalu,
hal yang tak pernah terpikirkan terjadi, dia bilang kalau dia yakin dengan
perasaannya, bahwa dia mencintai saya, singkat cerita sampai saat ini kami
menjalin hubungan yang bagi saya ini sakral, kesakralan akan sebuah hubungan
adalah paham yang saya warisi dari kakek nenek saya, lihat saja pernikahan
mereka. Setahun pacaran membuat saya dan
ray, lupa akan kesakralan ini, atau lebih tepat sengaja melupakannya, kami
mulai bosan satu sama lain, hal-hal kecil yang tak pantas menjadi masalah, bisa
memicu suatu pertengkaran yang akan sangat sulit diselesaikan. Setelah
menceritakan situasi itu kepada nenek, nenek pun mulai menceritakan kisahnnya.
“begini
nak, mengapa kau berpikir kau bosan dengannnya ? , dari mana kau belajar rasa
bosan ? siapa yang mencontohkan kebosanan kepadamu ? , bosan itu tak ada nak,
kau pikir itu kebosanan hanya karna kebetulan saja otak mu memiliki kosa kata
itu, dan kau memilih menggunakannnya pada situasi itu, yang sebenarnnya terjadi
adalah kau semakin mencintai dirinnya, percayalah nak, kebosanan yang kau pikir
itu adalah sisi lain dari cinta, orang melihat sosok bulan yang terang
menderang, tapi nyatannya cahaya itu
bukan miliknnya, cahaya itu adalah pantulan sang matahari, begitu juga dengan
cinta, banyak yang berpikir bahwa cinta itu adalah kebahagiaan, cinta itu
senyum, cinta itu tawa, cinta itu semua yang menyenangkan, padahal semua itu
bukan dari cinta, cinta yang sebenarnnya adalah apa yang kau sebut bosan itu”
“lalu dari
mana datangnnya semua kebahagiaan itu nek ?”
Nenek pun
lantas melanjutkan penjelasannnya,
“kebahagiaan
itu pemberian nak, kebahagiaan itu adalah hakekatnnya hidup, kebahagiaan adalah
peluru besi yang siap ditembakan, hidup adalah pistolnya, dan cinta adalah
pelatuknnya, ketika pelatuk cinta mulai kau gerakan, maka peluru kebahagiaan
akan terpancar dan melakukan tugasnnya, kepada siapa saja kau mengarahkan
hidupmu, kepadannyalah kebahagian itu akan pergi dan berbagi. Tapi peluru bisa
habis nak, namun pelatuk tak mungkin lepas dari pistolnnya”
Dalam
keheningan saya perlahan mulai membuka pikiran saya, dan mencoba mencerna semua
yang nenek berikan, mulut saya ingin bertanya, tapi entah apa, dan lantas hal
ini terucap.
“lalu
bagaimana jika pelurunya habis nek ?, bagaimana jika kebahagiaan itu mulai
hilang ?”
“dia tidak
benar-benar hilang nak, ketika kebahagian tak lagi terasa menyenangkan,
sebenarnnya dia sedang melakukan tugasnnya yang lain, sebab walaupun peluru itu
dari emas, sakit tak akan bisa terelakan, itulah adilnya hidup nak, tawa dan
tangis selalu datang sebagai satu kesatuan, tapi sekali pelatuk cinta kau
gerakan, maka kebahagiaan akan berbagi dengan siapa kau mengarahkan hidup,
sekali lagi nak, walau kau mulai tak bahagia, percayalah, cinta masih tetap
disana”
Penjelasan
nenek itu lantas membuat saya mengerti, dan mungkin itulah yang membuat
hubungan antara kakek dan nenek menjadi sangat langgeng, nenek begitu
bijaksana, dia begitu mengerti apa itu cinta, dia tau benar bagaimana bersikap
dengan semua unsur-unsur rasa kehidupan.
Ketika
mencinta, kita tidak hanya percaya kepada kebahagiaan, tapi juga pada tangis,
luka, benci, bosan, amarah, ego, dan semuannya itu merupakan kesatuan, karena
cinta adalah HIDUP.
_semoga bersambung_
_semoga bersambung_