10 Oktober 2012

Pelangi senja (part II)


Senjata dan satu-satunya peluru

Buat apa mempercepat langkah, toh yang lain juga masih jalan santai jauh dibelakang, hal ini seakan pasti, bahwa pagi ini semua siswa akan terlambat kesekolah, mungkin saja mereka lelah, semalaman suntuk memandang bulan yang lambat sekali langkahnnya, apalah jadinnya desa ini, ketika para remaja tak mampu menikmati alam, kita akan sama saja dengan remaja kota, buta akan keagungan Tuhan, tapi sok suci teriak Lawan atas nama agama, saya masih percaya, bahwa didesa ini kemurnian masih ada, biarlah udaranya saja yang mulai kotor karna motor-motor kreditan yang mulai ramai di jalan desa, asal jangan jiwa suci yang dikotori.
Ada jejak beralur di antara sawah, artinya telah ada yang mendahului saya, entalah, mungkin salah satu guru yang tak sabar untuk membagikan ideologinnya. Hari ini kakek dan nenek saya tinggal sendirian di rumah, semoga saja mereka langgeng dalam kesendiriannya, kemarin ketika kakek masih di sawah, nenek sempat bercerita tentang sempitnnya dunia mereka ketika pacaran, sebenarnnya nenek tak bermaksud menceritakan semua ini, tapi hati nenek seakan ingin berbagi ketika mendengar secuil kisah cinta yang saya utarakan,  ini kisah saya;
Setelah 2 tahun lebih berbaur dengan suasana desa, dengan kepolosan dan kemurnian alamnnya, saya mulai sadar bahwa Cinta yang Tuhan bagikan itu tak sekedar tertulis dalam kitab-kitab suci yang ada, tapi lebih besarnnya semua cinta itu di rajut dalam indahnnya gerak alam, dalam barisan merpati yang terbang melayang, dalam rajutan jaring laba-laba yang rapih, dan dalam gotong-royong semut hitam yang tak mengenal lelah. Cinta yang murni itu lantas membuat saya berpikir, bahwa sesungguhnya cintalah yang mendasari segala sesuatu, apalah jadinnya dunia ini tanpa cinta, dan lebih dalamnnya, apalah arti duniaku jika tak ada cinta di dalamnnya.
Namannya Ray, untuk saat ini saya berpikir dialah cinta dalam dunia saya, dia adalah teman sekelas saya, teman baik saya, dan pribadi yang menarik dan sangat mengerti bagaimana membuat situasi jadi menyenangkan, dan setahun yang lalu, hal yang tak pernah terpikirkan terjadi, dia bilang kalau dia yakin dengan perasaannya, bahwa dia mencintai saya, singkat cerita sampai saat ini kami menjalin hubungan yang bagi saya ini sakral, kesakralan akan sebuah hubungan adalah paham yang saya warisi dari kakek nenek saya, lihat saja pernikahan mereka.  Setahun pacaran membuat saya dan ray, lupa akan kesakralan ini, atau lebih tepat sengaja melupakannya, kami mulai bosan satu sama lain, hal-hal kecil yang tak pantas menjadi masalah, bisa memicu suatu pertengkaran yang akan sangat sulit diselesaikan. Setelah menceritakan situasi itu kepada nenek, nenek pun mulai menceritakan kisahnnya.
“begini nak, mengapa kau berpikir kau bosan dengannnya ? , dari mana kau belajar rasa bosan ? siapa yang mencontohkan kebosanan kepadamu ? , bosan itu tak ada nak, kau pikir itu kebosanan hanya karna kebetulan saja otak mu memiliki kosa kata itu, dan kau memilih menggunakannnya pada situasi itu, yang sebenarnnya terjadi adalah kau semakin mencintai dirinnya, percayalah nak, kebosanan yang kau pikir itu adalah sisi lain dari cinta, orang melihat sosok bulan yang terang menderang,  tapi nyatannya cahaya itu bukan miliknnya, cahaya itu adalah pantulan sang matahari, begitu juga dengan cinta, banyak yang berpikir bahwa cinta itu adalah kebahagiaan, cinta itu senyum, cinta itu tawa, cinta itu semua yang menyenangkan, padahal semua itu bukan dari cinta, cinta yang sebenarnnya adalah apa yang kau sebut bosan itu”

“lalu dari mana datangnnya semua kebahagiaan itu nek ?”
Nenek pun lantas melanjutkan penjelasannnya,
“kebahagiaan itu pemberian nak, kebahagiaan itu adalah hakekatnnya hidup, kebahagiaan adalah peluru besi yang siap ditembakan, hidup adalah pistolnya, dan cinta adalah pelatuknnya, ketika pelatuk cinta mulai kau gerakan, maka peluru kebahagiaan akan terpancar dan melakukan tugasnnya, kepada siapa saja kau mengarahkan hidupmu, kepadannyalah kebahagian itu akan pergi dan berbagi. Tapi peluru bisa habis nak, namun pelatuk tak mungkin lepas dari pistolnnya”
Dalam keheningan saya perlahan mulai membuka pikiran saya, dan mencoba mencerna semua yang nenek berikan, mulut saya ingin bertanya, tapi entah apa, dan lantas hal ini terucap.
“lalu bagaimana jika pelurunya habis nek ?, bagaimana jika kebahagiaan itu mulai hilang ?”
“dia tidak benar-benar hilang nak, ketika kebahagian tak lagi terasa menyenangkan, sebenarnnya dia sedang melakukan tugasnnya yang lain, sebab walaupun peluru itu dari emas, sakit tak akan bisa terelakan, itulah adilnya hidup nak, tawa dan tangis selalu datang sebagai satu kesatuan, tapi sekali pelatuk cinta kau gerakan, maka kebahagiaan akan berbagi dengan siapa kau mengarahkan hidup, sekali lagi nak, walau kau mulai tak bahagia, percayalah, cinta masih tetap disana”

Penjelasan nenek itu lantas membuat saya mengerti, dan mungkin itulah yang membuat hubungan antara kakek dan nenek menjadi sangat langgeng, nenek begitu bijaksana, dia begitu mengerti apa itu cinta, dia tau benar bagaimana bersikap dengan semua unsur-unsur rasa kehidupan.
Ketika mencinta, kita tidak hanya percaya kepada kebahagiaan, tapi juga pada tangis, luka, benci, bosan, amarah, ego, dan semuannya itu merupakan kesatuan, karena cinta adalah HIDUP.

_semoga bersambung_