10 Oktober 2012
Paper story
Jejak langkah ini kian terpacuh, memandang kosong semua perih pedih yang
hinggap dikepala ini, perlahan nafas kian menyempit, suara kian sunyi,
dan mimpi mulai memudar, disudut ruang ini masih ada secarik kertas yang
tak dapat kubuang begitu saja, sebuah nama yang tak mungkin terhapus
begitu saja, dia takkan terhapus, namanya tertulis jelas dengan sebuah
spidol permanen yang ku beli beberapa tahun lalu, kertas itu nampak
kusut, kotor, suram, dan rasanya sangan muda sobek, namun aku mencintai
semua yang tertulis didalam kertas itu, lebih dari sebuah nama,
didalamnya tersimpan begitu banyak cerita, begitu banyak teriakan, dan
teramat sangat banyak keletihan yang begitu indah, kertas itu masih
disini, masih menari, dan akan tetap kusimpan, disisi lain, ruang ini
sudah dipenuhi oleh setumpuk kertas yang telah mengotori dan memperindah
ruang ini, kertas-kertas berserakan disana-sini, semuanya memiliki nama
masing-masing, ada kertas yang mudah untuk disobek, dan kertas yang
lain yang takkan hancur walau ditarik buldoser sekalipun. Saat ini, saya
sedang memegang secarik kertas, kertas yang baru, aku masih menulisnya
dengan pensil biasa, dikertas yang lumayan bagus, setidaknya, lebih
bagus dari yang lain, aku baru saja menuliskan nama itu beberapa hari
lalu, aku menuliskan nama itu di sebuah kertas yang telah berserakan.
sejenak aku memandang kertas itu, memang tak seindah yang lain, tak
seistimewa kertas yang lain, punyamu mungkin lebih bagus, tapi dia unik,
dia berbeda, dan aku suka, aku tak tau asal-usul kertas tersebut, dan
aku tak mau tau apakah dia adalah hasil daur ulang kertas bekas pakai,
atau kertas putih polos yang baru di cetak, persetan dengan kemurnian,
ruang ini terlanjur mengabaikan hal itu. ruang ini masih begitu luas,
alat yang biasa ku pakai menulis pun masih cukup untuk sepuluh, bahkan
lebih lembar kertas kosong, pandangan mata ku pun kembali teralih kepada
sebuah kertas, kertas itu telah lama tak ku sentu, menatapnya sehari
sekali pun adalah langkah bagiku, kertas itu berada di sudut ruangan
ini, jauh disudut ruangan, dia sungguh tangguh, walaupun akhirnya kalah
juga dengan hembusan angin di ruangan ini, memang faktanya bahwa ruangan
ini memiliki sirkulasi udara yang sangat lancar, siapapun bisa betah di
dalamnya, tapi suatu saat akan tertiup angin dan tersudut du ijung
ruangan, kertas yang satu ini sudah hampir sobek, hal itu sangat wajar,
melihat perjalanannya yang memang sudah amat panjang, ingin rasanya
membersikan, dan membaharui semua kertas diruangan ini, tapi tanganku
hanya dua, dan mungkin kertas-kertas yang lain telah tertiup dan
terdampar di ruang yang lain, terimah kasih kertas, untuk semua
keindahan dan keunikanmu, dan kini aku akan kembali memperindah kertas
yang baru saja ku tulisi, kertas yang mungkin akan tinggal untuk waktu
yang lama.