21 Maret 2014

Kala

Aku lantas memasuki ruang kosong itu,

Dalam diam belenggu, sebuah tanda tanya kian menyelimuti kepalan tangan ini,

bangsat, selalu saja seperti ini..

mendekatlah kepadaku wahai kalian setan hitam yang sedari dulu memelukku.

Aku lantas memasuki ruang kosong itu,

mendekap sejuta kenangan dalam merah darah ketelanjangan...

aku terngiang wajah cantikmu,

aku teringat rintihan manismu, 

"Jangan berhenti"

seolah merasuk kedalam denyut terendah nadi ini.

aku kembali memasuki tanda tanya itu...

Mengorek semua yang dulu kau sembunyikan.

Dalam bulan aku berbaring,

memandang waktu, tentang "aku akan disana secepatnya".

tentang angkasa dimana kita mengambang.

aku selalu berandai-andai, bahwa semua yang kita ketahui

tentang cinta, dan mengapa kita disini.

Berbaring di bawah kenangan selembar pohon cemara.

mengalir di dalamnya luka kita berdua...

berhenti menangis kekasihku..

lupakan bahwa waktu adalah ilusi

dan dalam imaji, kita semua telah nyata.

membangun istana dengan kamu sang putri tercantik.

Bagiku kamulah lembar awal puisi tersayat.

tentang tinta merah diatas kenangan hitam.

percayakah kau ?, bahwa tak pernah kusobek kertasmu ?.

Bahwa darah-darah yang telah menyayat hatimu,

masih menjadi kenangan terluka di alur memoriku,

bahwa semua memori busuk itu, yang justru merusak lembar putih kita.

Dalam bulan kita berbaring,

dengan bayangan yang berpura-pura.

dengan kalimat "baik-baik saja" yang sebenarnya dusta.

aku petikan gitar dalam rentang purnama.

aku kembalikan cerita indah dalam mendung cahaya bulan,

Ambil kertasku sayang.

silakan balut sayatan itu, silakan imajikan bahwa kecantikan bukanlah luka.

Walau demikian, jangan pernah berpikir bahwa aku mencintaimu.

jangan pernah, karenah cinta adalah ilusi terbesar manusia.

Dan siang tadi, senjaku baru saja tertikam.

tentang yang namanya luka.

bangsat, selalu saja waktu yang ingin ku putar.

kembalikan dari enam ke tujuh.

Aku tersenyum dengan kalian, jika saja senyumku masih ada

terserahlah semesta, jangan pernah mengira-ngira..

Tentang kalimat "aku disana secepatnya".

Waktu adalah bayangan, tentang kita yang berilusi satu,

Tentang rahasia yang tak mereka tahu.

Kehidupan yang mimpi ini.