Sekilas memutar balik percakapan hari itu. Menggali memoar kisah cinta selembar kertas.
Ruangan kantor sangat sepi pagi ini. Belum banyak karyawan yang datang, mungkin karena suasana kota yang basah, dan hujan yang sedang deras-derasnya mengundang kemalasan.
Di lantai ini hanya ada saya dan OB yang sedang membersihkan ruangan. Dan kemudian ada langkah yang seperti berlari memasuki ruangan. Wajahnya kusut seperti ada kabut gelap di atas wajahnya yang cantik. Sembari mengambil kursi di depanku, "Aku ingin meledak Lex" katanya, "pacarku menggila lagi, kali ini bukan hanya ditampar, rambutku justru dijambak, merintih aku kesakitan Lex..."
Terlalu banyak cerita seperti ini yang ku dengar. Tak sedikit yang dari media, dan bahkan dari mulut teman-temanku sendiri. Airin salah satunya. Menjadi wanita seperti Airin memang penuh ironi. Pernakah kalian memikirkan tentang hubungan yang penuh cinta ?, Penuh kasih sayang dan kelembutan ?. Airin juga demikian, Airin sangat memikirkan hal itu. Airin menyimpan semua cinta, kasih sayang, dan kelembutan dalam memorinya. Dulu, dulu sekali, sebelum pacarnya berubah menjadi monster posesif yang tak segan-segan main tangan jika dipikirnya Airin telah berbuat salah.
Cerita yang panjang berbalut tangis dan memar itu menjadi cerita rutin yang diceritakan Airin.
Saya hanya terdiam melihat bibir Airin menari-nari dengan ceritanya. Pernah kau melihat indahnya angin sepoi-sepoi dan kicauan burung di tepi pantai ?. Seindah itulah bibir Airin ketika dia berbicara. Dengan rambutnya yang seperti ombak di tepi pantai dimana burung dan sepoi-sepoi angin bermuara.
Jika kau semenit saja menggantikan mataku untuk melihat Airin duduk bercerita, kau akan melihat keindahan. Dari matanya, ada senja yang mengindah. senja sore yang mencuri lelah terik siang hari. Senja sore yang merah dan kemudian hitam, menyembunyikan semua belenggu, semua kecemasan dan kegelisahan hari. Kau akan mencintai mata itu.
"Besok saya pindah ketempatmu yah Lex..." katanya, "Saya harus menghilang, mungkin dengan demikian dia tak akan lagi menggangu saya, saya ingin bebas darinya..."
Sejak malam itu Airin memutuskan untuk tinggal di tempat saya, sebuah kosan kecil di pinggiran kota.
Bukan mudah mengembalikan senyum di wajah Airin, tak semudah menghabiskan sebotol bir.
Berhari-hari kuhabiskan dengan Airin, mendengar semua cerita-cerita yang menari dari bibir indahnya.
Banyak hal telah berubah dari Airin, kini bukan lagi tangis dan cambak yang dia ceritakan. Tapi peluk dan cium, peluk dan cium yang menjadi cerita dan diceritakan hanya antara kita berdua. Dan tak satupun yang mengetahuinya.
"Saya sangat senang mengingat semua cerita di balik foto-foto ini" kata Airin sambil membuka-buka foto lama yang disimpannya dalam sebuah kotak kayu.
"Yang ini adalah ketika saya dan ibu pertama kali memasak bersama" katanya "sebuah kesenangan bisa menghabiskan waktu dengan ibunda tercinta. Bercerita tentang pandangan-pandangan hidup yang ibu saya ingin saya pegang. Salah satunya adalah bahwa kita bukan diciptakan untuk melayani lelaki, tapi melayani lelaki adalah kita lakukan sebagai siasat"
Alis saya mengkerut mendengar cerita Airin, seolah tak mengerti.
"Kamu pasti tak mengerti Lex, karena kamu lelaki" lanjut Airin, "Kami perempuan sering berpura-pura lemah di depan lelaki, agar kalian tak minder dan merasa tersaingi. Karena jika kalian sadar bahwa kami tak lemah, maka kalian akan kehilangan satu-satunya kelebihan yang kalian banggahkan. Dulu ibu sering berpura-pura sakit agar bapak mau memasak untuknya. Hal ini dilakukan agar bapak mau menyisikan waktu dari kesibukan kantornya. Bisa kamu bayangkan kalau ibu tak pernah berpura-pura sakit. Semua siasat itu dilakukan agar kalian lelaki merasa dibutuhkan. Saya bisa saja membalas semua pukulan yang dulu pacar saya berikan, tapi sudahlah" wajah Airin mendadak murung. Airin kemudian berjalan pelan ke kamar, membaringkan tubuh indahnya di kasur kecil yang menjadi sangkar kita selama ini.
Sudah sekian lama saya dan Airin bersama, tapi dalam matanya masih terlihat sebuah tanda tanya. Bukan kesedihan, tapi tanda tanya. Di balik senja indah di matanya, seperti ada corak bintang yang seakan indah, tapi tertutup awan. Ingin sekali bertanya tentang apa yang sebenarnya dia sembunyikan, tapi setiap kali pertanyaan saya mengarah kesitu, pasti wajah airin langsung murung dan saya tak senang akan hal itu. Airin sering menghabiskan waktu dengan kotak kayu tua tempat dia menyimpan foto-fotonya. Sebuah polaroid mini selalu ada di dalam tas hitam kecil yang dibawanya. Setiap momen penting pasti di akan di tangkap pleh lensa kameranya. Saya bahkan sering risih ketika sedang di suatu tempat, dan Airin lebih sibuk mengambil gambar dari pada berdialog dengan saya. Suatu ketika saya mencoba membuka kotak katu itu, mencoba kelihat foto-foto yang diambil Airin. Semuanya begitu indah dengan sudut pengambilan gambar yang unik. Mulai dari foto keluarganya, sampai foto-foto binatang peliharaan Airin yang semuanya aneh. Seekor ular hitam sepanjang 2 meter yang menurut Airin adalah hewan lucu, dan sangat disayanginya. Baru setengah dari tumpukan foto itu saya nikmati, kemudian Airin datang dan merebut kotak kayu itu. Sejenak saya mengira bahwa amarah Airin akan meledak. Wajar saja, walaupun foto-foto di dalam kotak itu terkesan situasi dan kejadian biasa, tapi Airin sangat menjaga kotak itu, berpikir bahwa itu adalah bagian dari privasinya. Wajah Airin yang seakan ingin memaki saya hanya bertahan selama dua detik, dan kemudian Airin tersenyum. "Kamu kalo mau lihat-lihat bilang dulu dong Lex, biar nanti bisa saya bantu cerita tentang apa cerita di balik setiap foto. Lagipula percuma kamu menikmati foto-foto ini tanpa mengerti cerita di balik setiap kejadian" Airin kemudian mengambil sebuah foto, di dalam foto tersebut ada seorang wanita cantik, sekilas mirip Airin, tapi berambut pendek. Airin kemudian bercerita, "Ini adalah teman baikku waktu di SMA Lex" katanya, "teman-teman sering menyebut kami kembar, karena wajah kami yang mirip dan minat kami yang pada kebanyakan hal hampir sama, kami berteman sejak awal SMA sampai kami lulus, namanya Dita. Dita kemudian memutuskan untuk kuliah di luar negeri, hal itulah yang kemudian membuat kami terpisah. Tahun yang lalu, saya mendapat berita bahwa Dita meninggal dunia, karena kanker otak. Sesuatu yang tak pernah saya ketahui bahwa dita mengidap kanker otak. Selama tiga tahun saya sering melihat wajah Dita memucat, dan ekspresi wajahnya yang menahan sakit setengah mati. Tapi Dita tak pernah bercerita bahwa semua itu akibat kanker di kepalanya.". Wajah Airin sangat datar ketika menceritakan hal ini, suatu hal yang ganjil mengingat Dita adalah sahabat Airin satu-satunya yang pernah Airin ceritakan ke saya. "Cukup yah Lex, sudah tengah malam, kita tidur yuk" Airin menarik tangan saya memasuki kamar tidur yang gelap dan dingin. Airin kemudian melepaskan kemejanya, menyisakan dalaman merah yang melekat erat ditubuh Airin. Kau pernah melihat keindahan pelangi yang melengkung dalam warna-warni ?. Tubuh Airin adalah lengkungan yang jauh lebih indah dari pelangi. Di dadanya menggantung kalung tengkorak yang sangat beruntung berada di tengah payudaranya. Dalam lampu kamar yang remang, gairahku meledak seperti seekor ular yang merayap masuk kedalam hutan gelap. Tak satupun cahaya yang dilihat sang ular, hanya dingin tanah yang menjalar hangat di perutnya. Aku kemudian membiarkan semuanya terjadi. Kubiarkan tubuh Airin menyentuh hangatnya tubuhku. Semua terasa gelap. Kami kemudian saling menatap, wajah Airin terlihat sangat indah di bawah remang lampu kamar yang sedari tadi ingin kupadamkan. Mata dan mata saling menatap, pandangan terindah yang selama ini aku bahyangkan. Rambutnya yang terurai menyentu lembut pipiku. Semakin aku dan Airin menyatu, semakin kosong kurasakan. Terus kumasuki keindahan Airin, tapi tetap kosong yang kudapati. Seakan kita saling menyentuh hanya untuk berbagi kekosongan. Dalam rintihan ku pegang dada Airin yang hangat, mengibas rambutnya yang panjang terurai. Kami menyatu dalam kekosongan, sampai teriakan pagi memecah keremangan itu, dan menghantar kita ke mimpi yang indah.
"Selamat pagi Lex" sapah Airin sambil membelai lembut dada ku. "Mau kemana kau hari ini Lex ?, temani aku ke taman yah Lex" katanya, "sudah sekian lama sejak terakhir kali saya duduk di bangku taman sambil memotret indahnya orang yang lalu lalang".
Dengan wajah yang lusuh dan badan yang seakan ingin retak, saya kemudian bangun dan langsung berjalan ke kamar mandi. "Gimana Lex ?, ikut ke taman kan ?". Aku tertawa. "Kenapa kamu tertawa Lex ?" Katanya "wajah kamu lain yah kalau tertawa, saya jadi teringat bapak, iya Lex, kamu mirip bapak".
"Ah sudahlah Rin, gantengan saya pasti dari bapakmu" jawabku sambil melepas handuk dan masuk ke kamar mandi.
"Kamu sudah mandi kan Rin, kalo mau ke taman ayo sana ganti baju".
Kami menghabiskan pagi itu di taman tengah kota yang sangat sepi, sudah tak seperti dulu ketika orang masih mengidamkan duduk dibangku taman berbagi cerita dan canda tawa. Hanya saya dan Airin disini, duduk merenung bercerita tentang masa lalu dan masa depan. Sangat indah untuk berbagi cerita dengan Airin. Sudah 3 bulan sejak kita bersama, dan selalu saja ada cerita baru yang dikisahkan Airin. Bagi saya hidup Airin sangat sarat cerita, tak sedikit yang bahkan membuat saya terkaget-kaget mendengarnya. Salah satunya adalah kerika Airin bercerita tentang kematian Dita. Bahwa ternyata Dita tidak kuliah di luar negeri, tapi Dita lari dari rumah dan tinggal bersama kekasihnya di apartemen tengah kota yang jauh dari keluarganya. Juga bahwa Dita tak meninggal karena kanker otak, tapi karena dua luka tusukan di dadanya, dan pelaku pembunuhan tak lain adalah kekasihnya sendiri. Begitu banyak cerita yang dipalsukan Airin. Hal ini yang membuat Airin penuh dengan misteri. Hal ini yang kemudian membuat saya semakin ingin bersama Airin. Bukan untuk mencintainya, tapi menggalih cerita tersembunyi di kehidupannya.
Pagi itu sangat sejuk, Airin yang kemudian mengitari taman dengan polaroid miliknya. Lebih dari satu jam Airin memotret semua yang baginya menarik. Dan kami pun kembali ke kosan kami, dengan sejuta kaget dan tanda tanya di kepala saya. Kisah apa lagi yang Airin sembunyikan.
