Malam itu saya masih bersama hirata, perempuan paling melankolis yang saya kenal, seperti malam-malam biasannya, kita berdua duduk termenung tanpa sepata katapun, dia dengan imajinya, dan saya dengan imaji saya, tepat pukul 01:00, hirata menatap saya tajam sambil berkata “sandria,,, saya harus bunuh diri” dengan wajah serius dia terus meyakinkan saya sambil mengoyak-ngoyakan bahu saya, saya hanya diam tak mengerti, sampai hirata mengambil obat penenang yang ada di saku kemejannya dan langsung menelan habis semua tablet putih yang dicandunya itu. “hey, anjing, ini maksudnya apa sih ?” “pokoknya saya harus mati” tegas hirata sambil tersenyum, “pokoknya malam ini saya akan mati, saya akan jelajahi dunia orang mati, dan besok saya akan ceritakan semuanya” beginilah hirata, perempuan paling gila yang pernah saya kenal, tak lama kemudian, hirata pun tertidur di meja kafe yang kian sunyi. Hal ini biasa terjadi, bahkan pegawai kafe akan bertanya-tanya, kemana hirata jika saja dalam 3 hari tak ada hirata yang tertidur di meja kafe. Bosan dengan kejadian ini, saya pun lantas segera keluar meninggalkan hirata, berharap dia benar-benar mati.
________________________________________________________________________________________
“hey bangsat, sialan, semalam kemana lu ? gua hampir mati tau!!!”
“lah, bukannya lu emang mau bunuh diri ?, kenapa sekarang malah protes?"
“nah itu dia masalahnya san, gua gak mati-mati, masa harus nabrakin diri di kereta, kan gak asoy”
Ini adalah dialog paling absurd selama seminggu ini, iya, seminggu ini, karena seminggu sebelumnya hirata juga teriak-teriak ingin kerasukan, sampai-sampai hirata tidur di makam pahlawan, berharap kerasukan arwah patimura, gilaaaaa, hirata tak ada duanya, dia adalah penulis paling total yang pernah saya kenal dalam perjalanan hidup saya, sampai saat ini hirata telah menulis 2 novel yang isinya super duper absurd, novel yang pertama tentang pembunuh berantai, yang untuk pendalaman karakter, hirata sampai menginterview langsung seorang pembunuh yang paling ngeri di salah satu rumah tahanan di seputaran bandung, dan novel kedua, tentang kasus lesbian dan seluk beluk dunia prostitusi, dan moment absurdnya adalah ketika hirata telah menyiapkan moment romantis hanya untuk kita berdua, demi merasakan rasanya pacaran sesama jenis. Segila-gilanya hirata, dia selalu total dalam mengejar mimpinya, bagi hirata, untuk sebuah totalitas, luka dan perih akan terasa manis.
“ta, gini deh yah, lu tu gak harus kali mati cuman untuk bikin novel, trus nanti yang nyelesein novel lu siapa ? yang bawa ke penerbit siapa ? , otak lu dibawa gak ?”
“san, makannya, gua cuman pengen mati suri, biar tau rasanya mati tu kaya gimana, nanti pas hidup lagi, baru deh novelnya dilanjutin”
“hmmm, okelah, debat panjang lebar juga gak bakalan ada gunanya, otak lu udah terlanjur gila, jadi rencana lu apa ?”
“rencananya cuma satu san, bunuh diri!!!”
__________________________________________________________________________________
Pagi itu juga hirata pergi meninggalkan rumah saya, kalimat terakhirnya adalah “jika suatu saat aku telah mengerti arti kematian, disaat yang sama kamu pasti akan mengerti arti kehidupan”
Dengan senyuman, hirata meninggalkan kamar saya dan yang saya lihat adalah, seorang perempuan cantik, beramput panjang, dengan jeans kucel berjalan begitu cepat menuju pintu keluar. Dan tak selang berapa waktu, siang itu Hirata dikabarkan meninggal, dia ditemukan terbaring tak bernafas di dalam kamarnya sendiri, dengan posisi duduk di meja kerjanya, saya lantas bergegas menuju rumah hirata, dan apa yang saya lihat adalah sangat dramatis, hirata mati dengan wajah tersenyum, entah ini imaji saya, atau saya telah sama gilanya dengan hirata, tapi di balik wajah datar tak bernyawa itu, saya melihat sebuah senyuman, sebuah arti mendasar dari kehidupan. Saya lantas mengambil semua yang ada di meja kerja hirata, sebuah notebook yang isinya menjadi catatan hidup seorang hirata, didalamnya ada puluhan draft cerita yang tak sempat dia terbitkan, dan ada ratusan bahkan ribuan foto yang menceritakan seberapa gilanya hirata.
__________________________________________________________________________________
Malam ini saya tak sendiri, saya tau hirata ada disini, sudah 1 jam lebih saya menatap mata saya di depan cermin, berharap hirata datang dan menyapa, ribuan kali saya bisikan ke pikiran saya “hirata-hirata, saya ingin kerasukan, masuk ke tubuh saya hirata, silakan masuk” semakin banyak kalimat itu saya ucapkan, semakin rentan hati saya terhadap kenangan hirata, hirata tak pernah tau, hirata tak pernah mengerti, bahwa saat hirata memberikan saya momen romantis yang untuknya sekedar pendalaman karakter, untuk saya bagaikan mimpi yang jadi nyata, saya mencintai hirata, saya tak peduli setan jika ini tak masuk logika, tapi saya cinta hirata, titik. Saya menyesal, saya menyesal tak melarangnya untuk bunuh diri, dan saya menyesal bahwa dalam hidupnya saya tak luangkan waktu walau hanya 30 detik mengutarakan rasa gila ini, saya tak cukup jujur, saya tak cukup mampu mengiyakan bahwa saya seorang lesbian, sayangnya lagi, hirata kini tak mati suri, dia hanya mati, mati dan selesai.
“hirata, saya ingin kerasukan!!!”
“hirata, saya lesbian!!!
“hirata, saya ingin BUNUH DIRI !!!!!!”
::: Dan untuk totalitas, luka dan perih akan terasa manis :::