Indonesia tahun 45 adalah masa dimana tanah air dibanjiri oleh karya-karya klasik dan elegan dari coret tangan sang maestro, siapa tak kenal Chairil Anwar, sosok kurus kerontang dengan rokok sebagai ciri khas, tapi bukan rokoknnya yang akan saya bicarakan, yang ingin saya bicarakan disini adalah, bahwa generasi saat ini sedang membutuhkan karya binatang jalang satu ini untuk kembali di jadikan acuan dan panutan karya sastra yang sesunggunnya, ratusan puisi bertebaran diluar sana, bicarakan cinta yang entah dari siapa mereka terilham, bukannya kita tak butuh cinta, tapi setidaknnya contohlah beliau, yang tegas mencinta, tanpa harus bersungut-sungut membawakan segelas air, apalagi lautan. Cinta is cinta, cinta adalah satu-satunya kata yang tak memiliki pengertian, apa pengertian cinta menurut anda, mungkin tak sama dengan apa yang dipikirkan orang lain, dan saya disini untuk bicarakan cinta yang menurut saya, dan menurut pemahaman saya, tujuan saya bukan menyalahkan persepsi kalian, tapi untuk membuka mata teman sekalian, dan sadar bahwa ada hal lain yang lebih utama dari sekedar membuang waktu mencinta dengan cara yang salah.
"Tak ada yang salah dengan cinta, saya ingin mencinta begini dan begitu, itu urusan saya" mungkin itu yang terlintas dibenak anda, atau setidaknnya itu idealisme anda, anda merasa bahwa cintalah yang harus anda perjuangkan, karena mungkin anda buta rasa dan tak ada yang harus benar-benar perjuangkan selain cinta, atau dengan kata lain hidup anda statis hanya dengan memikirkan cinta.
sebenarnnya tulisan ini ingin saya arahkan ke teman-teman lelaki sekalian, dan konteks wanita yang akan saya bicarakan ini, adalah wanita yang anda idam-idamkan, bukan sahabat, atau saudara anda. beberapa hari lalu saya sedang duduk di kampus memikirkan sesuatu, saya lupa apa, semoga saja bukan cinta, dan tiba-tiba ada seorang lelaki, entah benar-benar lelaki atau bocah atau apalah sebutannya, beliau masuk ke ruangan kelas sambil senyam-senyum dan membawa 2 buah kursi, disampingnya ada 2 wanita yang mungkin berpikir mereka cantik, dan tentu saja, mereka saya jamin tak benar-benar cantik, dan dengan banggahnya sang lelaki ini bersuara lantang kepada wanita lainnya "Ta da bawa akang ni kursi for dong dua" (saya bawakan kursi ini untuk mereka) , lantas apa yang anda lihat ? kebaikankah ? keromantisankah ? atau justru kerendahan diri ? , tentu saja sang lelaki merasa bangga dan berpikir dirinnya hebat, tapi apa yang sebenarnnya ada di benak wanita ? yup, dia tak lebih dari seorang pesuru, yang ingin saya sampaikan bukanlah tentang bahwa kita tak boleh sedikitpun membantu sesama, tapi ayolah... lakukan sesuatu tanpa merendahkan diri sendiri, kalau kita ingin membantu seseorang, pastikan mereka tau kalau kita memang melakukannya karena kita mau, bukan disuru, dan bagi saya, setidaknnya dengan begitu anda tak perlu merendahkan diri, jangan termakan kisah-kisah cinta bobrok dimana sang pria berlari mengalahkan naga untuk sang putri, dan sang putri jatuh cinta padannya, anda pikir anda pangeran ? anda pikir dia sang putri ? ayolah... dalam realita kita tidak demikian, kalaupun anda bersikeras bahwa romantisme dan melakukan ini itu dapat mencuri hati wanita yang anda idam-idamkan, pikirkan lagi dari siapa anda melihat itu semua, di kebudayaan yang sama dengan kita kah ? mungkin referensi yang anda gunakan adalah cara pria barat kepada wanita di barat sana yang otaknnya jauh lebih terbuka dari ada wanita Indonesia yang orientasinnya adalah kecantikan semata, pikirkan lagi, berapa banyak wanita cantik di area anda yang benar-benar berkualitas dan dewasa dalam pola pikir ?, jika ada, tentu saja dia akan sangat mandiri yang untuk mengangkat kursi saja tak perlu memanfaatkan anda, yang ingin saya sampaikan bahwa, ketika anda mengidamkan seorang wanita, anda tak harus menjadi budaknya. TITIK..
Anda kenal Soekarno kan ? dia adalah contoh pria mapan yang dibanjiri wanita, dan dia pria dari bangsa kita dengan latar budaya kita, berapa banyak istrinnya ? banyak bukan, bahkan marilyn monroe pun terpikat dengannya, pertanyaannya adalah, apakah dia pernah menjadi hamba salah satu wanitannya ? tentu saja tidak. saya berbicara seperti ini bukan karena saya expert dalam hal ini, saya justru orang paling tak mengerti tentang hal-hal seperti ini, saya mewacanakan semua ini berdasarkan sudut pandang orang awam. intinya adalah, apa penyebab semua ini ? apa penyebab semakin terpuruknnya mental para pejuang-pejuang generasi kita ? bahyangkan jika ini terjadi di era 45, maka penjajah hanya akan mengalahkan kita dengan ratusan wanita saja. yang jadi opini saya, bisa saja penyebab semua ini adalah media, media yang didalamnnya musik, film, dan puisi, cenderung menggambarkan seorang pria yang memohon kepada wanita, inikah yang Soekarno bahyangkan ketika dia melarang koes plus berkarya di tanah air ? tapi koes plus justru sangat hebat, mereka tetap romantis in the coolest way, mereka legend. yang parah adalah mereka-mereka yang berkarya tanpa memikirkan tanggung jawab isi karyannya, yang bisa membodohi pikiran kita, lihat saja musik tanah air, saya tidak sedang mengkritik GENRE, tapi saya sedang bicara tentang LIRIK, GENRE apapun akan nikmat dan bermanfaat kalau liriknnya berkualitas. dalam sejarah tercatat nama Chairil Anwar, sosok puitis yang mampu menulis karya hebat tanpa merendahkan diri, Memuji orang lain tak berarti merendahkan diri bukan ?, tapi kembali lagi dari bagaimana kita melakukannya, mungkin ada baiknnya mulai saat ini, jika anda wanita, bersikaplah dewasa dan mandiri, jangan teriak EMANSIPASI WANITA, kalau kursi saja tak bisa angkat sendiri.